Minggu, 07 Agustus 2016

Membincangkan HORISON (Versi Cetak) yang Tenggelam di Ufuk Barat

Malam mulai turun, ketika motor yang kupacu memasuki parkiran Balai Soedjatmoko. Balai di tengah Kota Solo yang ramai. Solo yang mulai padat dan panas. Pukul 19.00 WIB acara yang ditunggu pun dibuka. Acara yang membincangkan majalah sastra ternama di Indonesia, HORISON. Majalah yang telah malang melintang di percaturan sastra Indonesia selama 50 Tahun itu akhirnya mengumumkan diri TAMAT! Mundur dari hiruk pikuk kesastraan Indonesia. Acara bincang-bincang berlangsung cukup santai. Di moderatori oleh Mbak Indah Darmastuti, dengan menghadirkan pembicara Bandung Mawardi yang mengelola Jagad Abjad dan Bilik Literasi Solo, serta Dewan Redaksi HORISON, Joni Ariadinata, mampu membuat bincang-bincang mengalir bernas. Joni dalam bincang-bincangnya sempat bertutur bahwa kehadiran ruang sastra di koran maupun majalah selain HORISON memang menggembirakan. Namun di sisi lain, hal itulah yang sedikit membuat majalah HORISON terpinggirkan hingga limbung menghadapi persaingan. Hanya idealismelah yang selama ini membuat HORISON tetap bertahan. Pada masa Kementerian Pendidikan yang digawangi Wardiman, HORISON mengalami masa yang cukup menggembirakan. HORISON mampu masuk ke sekolah-sekolah di seluruh pelosok Indonesia. Itulah masa keemasan HORISON.

Minggu, 31 Juli 2016

Sekolahku


Inilah sekolahku. Sekitar 30 tahun yang lalu aku bersekolah di sini. SD Negeri Kurung III namanya. Dulu, sekolah ini begitu ramai. Anak-anak berlariam di teras kelas. Sebagian anak lainnya bermain kasti. Halamannya begitu terawat. Ada taman di setiap depan kelas. Di belakang gedung kelas ini ada kolam ikan yang biasanya dapat kami panen. Sekolah mengajarkan wirausaha. Jauh sebelum kami mengenal pelajaran itu. Di sanalah tersemat suka, duka, tawa, dan sedih.

Minggu, 27 Desember 2015

Pendidikan Karakter



 Pendidikan Indonesia kini sedang gencar-gencarnya menekankan pendidikan karakter. Bahkan, di kurikulum 2013 terdapat Kompetensi Inti yang menekankan hal itu. Pendidikan karakter sejatinya sudah sudah ada sejak zaman dulu kala. Sebagai manusia yang beragama tentu saja kita mempunyai model sebagai rujukan dalam kita berperilaku, baik sebagai pribadi, anggota masyarakat, maupun bagian dari suatu negara.

Minggu, 29 November 2015

THOLE


Sore itu Thole baru pulang dari sekolah. Ya, anak sekolah sekarang memang pulang ketika waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 WIB. Lelah pikiran dan tubuh pun sudah mendera. Ia berharap bila sampai di rumah segera dapat beristirahat. Namun, harapan tinggalah harapan. Pulang sekolah, ia tak tega melihat ayahnya yang masih berkutat dengan sawah yang digarapnya. Tubuh ramping ayahnya dan sedikit keriput di wajah, membuat hati si Thole tergerak untuk membantunya. Sawah sewaan dari Pak Amir, seorang pegawai bank pemerintah memang tak jauh dari rumahnya. Thole bergegas mengganti baju sekolahnya dengan kaos oblong warna coklat yang tersampir di kursi kamarnya. Berganti celana pendek dan langsung menghambur ke sawah setelah meneguk segelas air putih.
Thole, anak ketiga dari seorang buruh tani kini telah duduk di kelas XI sebuah SMK di daerahnya.

Minggu, 21 September 2014

Buletin Sekolah Mata Pena SMK N 2 Klaten


Buletin Mata Pena SMK Negeri 2 Klaten edisi September siap terbit. Pada edisi kali ini tema yang dipilih adalah "Kemerdekaan". Pemilihan tema ini didasarkan pada keprihatinan yang mendalam dari Dewan Redaksi Mata Pena SMK N 2 Klaten yang melihat bahwa nilai-nilai nasionalisme mulai megelupas dan meluntur dari pribadi generasi muda. Sebuah pemikiran dan fakta kehidupan menuntut untuk selalu didokumentasikan. Inilah cara para siswa SMK N 2 Klaten yang aktif di Mata Pena membuktikan kepeduliannya. Mari isi kemerdekaan dengan penuh kebanggaan!