Kamis, 23 September 2021

Setelah Tujuh Belas Tahun, Disatukan dalam Cita-cita Keberagaman


Tujuh belas tahun yang lalu, saat masih kuliah di salah satu universitas di Solo, aku menginjakkan kaki pertama kali di kantor sebuah surat kabar ternama di kota itu, Solopos namanya. Aku masih ingat saat aku magang kejurnalistikan di Solopos FM. Aku diajak salah satu wartawan Solopos FM untuk meliput penghitungan suara pemilu di Stadion Manahan. 
Waktu memang menyimpan meisterinya sendiri. Siapa nyana, kini kami sering dipertemukan kembali dalam suasana penuh keakraban. Tentu saja, semua itu tak lepas dari benang merah yang telah digariskan Sang Maha Sutradara, Tuhan Yang Mahabaik. Keakraban itu kian bertambah saat di tahun 2021 Solopos Institute mengadakan program Literasi Keberagaman Melalui Jurnalisme. Sebagai salah satu sekolah yang dipilih dalam program itu, kami sering berkomunikasi dan berkolaborasi mengabarkan perkembangan jalannya program. 

Diawali dari pembuatan modul, TOT, pelatihan kepada para siswa yang terwadahi dalam ekstrakurikuler jurnalistik, sampai pada pelatihan penguatan jurnalistik untuk membangun kesadaran tentang keberagaman, kami terus bekerja bersama untuk mencapai tujuan yang diharapkan. 
Pada hari Rabu dan Kamis (22-23/9) bertempat di Hotel Solia, kami kembali berkolaborasi. Bersama lima belas guru dari delapan sekolah yang menjadi pembina ekstrakurikuler jurnalistik, kami berdiskusi dan berlatih untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan tentang kejurnalistikan. 


Di hari pertama, diawali materi pengelolaan media sekolah yang disampaikan Mbak Rini, kami diajak untuk melihat media apa saja yang potensial untuk dikembangkan sebagai sarana penyampaian pesan perihal keberagaman. Pada sesi ini pula kami ditantang untuk membuat sebuah video pendek berkenaan dengan keberagaman. Tantangan diterima. Setelah dibagi menjadi dua kelompok, kami segera berdiskusi membuat skenario, memosisikan diri sesuai peran masing-masing, dan mulai syuting. Meski hanya berbekal gawai, tak menyurutkan semangat untuk membuat konten yang bermakna.
Sesi kedua Mbak Ayu prawitasari beraksi. Materi yang dibawakannya memang lumayan serius dan menjurus. Hee...maksudnya menjurus pada bidang jurnalistik lho ya... Di awal presentasi kami disajikan empat buah informasi. Dua informasi bersumber dari medsos, dan dua lainnya bersumber dari web Solopos. Menganalisis menjadi ruh dari materi yang dibawakan Mbak Ayu. Hmmm...lumayanlah untuk memantik daya kritis. Di sinilah kami tertantang untuk memahami lebih jauh perbedaan antara informasi yang disajikan dalam medsos dan kantor berita resmi. Tentu saja untuk masalah akurasi, informasi yang ditulis kantor berita resmi tak akan mampu disaingi oleh informasi yang ada dalam medsos. Jelas dengan sumber daya manusia yang mumpuni, kantor berita resmi lebih akurat dalam memberikan informasi. 

Mas Syifaul Arifin hadir menyajikan materi ketiga, membahas tentang bagaimana menyusun program dan materi pelatihan jurnalistik. Materi ini menyajikan hal-hal yang mesti dilakukan untuk meningkatkan kemampuan jurnalisme peserta didik. Selain itu dibahas pula teknik penulisan straight news dan feature. Selintas mendengar kata feature, aku teringat buku-buku kumpulan feature milik Sindhunata. Tulisan-tulisan itu dibukukan dan diberi judul antara lain "Burung-burung di Bundaran HI", "Ekonomi Kerbau Bingung, maupun "Sayur Lodeh Kehidupan". Tulisan-tulisan Sindhunata itu begitu menggugah. Pokoknya "wah".

Di hari kedua kami disambut materi milik Mas Ichwan Prasetyo. Judul materi yang dibawakan sungguh membuat kening mengkerut hehe. Sampai sampai aku harus mencari dua kata yang masih asing di KBBI daring. Satu kata ada dalam kamus (deontologi), tetapi satu kata lagi ternyata belum masuk dalam KBBI daring (resiliensi). Mungkin karena jarang digunakan, kata resiliensi belum mendapat tempat di KBBI. Maklum, jarang disebut jadi belum masuk ke hati hehe... Gaya Mas Ichwan yang los saat presentasi mengingatkanku pada masa ketika masih menjadi mahasiswa, orasi he.. Mengkritisi media sosial menjadi ruh di materi yang dibawakan Mas Ichwan. Beberapa buku pun menjadi acuan dalam sesi ini. Salah satu buku itu adalah karya Agus Sudibyo yang berjudul "Jagat Digital: Pembebasan dan Penguasaan". Kode etik jurnalistik dan elemen-elemen jurnalistik juga menjadi pembahasan di sesi ini. Sebagai pembina jurnalistik, kode etik dan elemen jurnalistik mesti menjadi patokan dalam segala aktivitas kejurnalistikan. 

Selepas Mas Ichwan beraksi, kembali Mbak Ayu berbagi nutrisi kejurnalistikan. Kali ini materi yang dibawakan adalah merancang media sekolah untuk isu keberagaman. Kembali sebuah berita disajikan. Berita itu tentang kerukunan umat beragama di sebuat desa di Klaten Utara. Di sesi inilah praktik rapat redaksi diadakan. Masalah-masalah berkenaan keberagaman menjadi isu yang didiskusikan untuk mengisi berita/informasi yang hendak disampaikan. Mengambil tema besar "Sekolah Damai", beberapa redaktur dengan penuh semangat berdiskusi dan melakukan presentasi. 


Hari kedua ditutup oleh Mas Diqy yang membawakan materi evaluasi penerbitan media sekolah. Di sesi ini kami diajak untuk mengevaluasi tujuan diadakannya media sekolah. Selain itu, beberapa media sekolah hasil karya jurnalistik peserta didik di beberapa sekolah juga ditampilkan. Dari materi ini pula terlihat perbedaan yang mencolok antara karya jurnalistik anak SMA dengan SMK. Hmmm...apa ya perbedaannya... Hehe, rahasia ya. Takutnya jadi labeling :)

Selasa, 16 Februari 2021

 


Songgo Bumi (Gobumi): Ekspedisi Tak Terlupakan

Beberapa pekan yang lalu, tepatnya di hari Sabtu (16/01) SCC kembali mengadakan ekspedisi dengan bersepeda menuju sebuah tempat di lereng Gunung Merapi. Tempat itu bernama SOnggo Bumi atau sering disebut Gobumi. Sebuah tempat yang sangat menantang untung dilalui bagi para goweser. 

Pagi itu para goweser SCC sepakat berkumpul di rumah Ndan goweser SCC, Pak Andi, di wilayah Gedaren. Teh hangat menyambut kawan-kawan yang datang berkumpul di sana. Ada Pak Pur, Pak Muhshon, Mas Prih, lalu ditambah Pak Sumbul, Pak Yu, dan sahabat Pak Yu (tidak tahu namanya). Aku sendiri berangkat dengan bocilku bersepeda motor. Kami akhirnya bertemu dengan rombongan goweser SCC di daerah Drajidan. Saat mereka beristirahat di Pasar Drajidan untuk sarapan, aku dan bocilku menyusul lalu bergabung juga untuk menikmati teh dan cemilan. Karena dari rumah sudah sarapan, aku dan bocilku tidak pesan soto, masih kenyang. Selepas menikmati makanan, kami segera melanjutkan perjalanan. Perjalanan mulai menanjak.



Perjalanan selepas Pasar Drajidan ibarat etape pertama yang penuh tantangan. Kayuh....kayuh...kayuh...hanya itu yang ada dalam benak para goweser SCC. Tak perlu memandang jalan yang menanjak. Intinya adalah kayuh senti demi senti. Ketabahan dan kesabaran menjadi modal utama untuk melewati jalanan yang terus menanjak. Bak sebuah perjalanan hidup, makin tinggi maka tantangan makin besar.




Etape pertama dilalui dengan sempurna. Meski sedikit ada kendala, namun dapat diatasi dan seluruh anggota SCC dapat melewatinya. Sampai di perempatan (tak tahu namanya) kami beristirahat sejenak. Mengistirahatkan kaki yang terasa pegal karena terus mengayuh ketika menanjak. 


Sabtu, 13 Februari 2021

 


Goweser MTB dan Grojogan Banyunibo

Baiklah, ini kisah para goweser SCC berikutnya. Pagi yang berawan dan sedikit mendung, para goweser SCC bersepakat untuk berkumpul di rumah goweser tabah, Pak Purwoko. Saat saya sampai di tikum alias titik kumpul, jam sudah menunjukkan pukul 07.04 wib. Di sana sudah ada Mas Ginanjar, Pak Khoiruddin, dan Bung Gundul (sahabat Pak Pur). Karena belum sarapan, kami berempat sepakat untuk sedikit menghangatkan badan di angkringan sebelah timur rumah Pak Pur. Kami memesan teh hangat. Dua ibu yang tak muda lagi cekatan membuatkan apa yang kami pesan. Teh dengan gula batu menjadi pengahangat perut kami agar tak sekarat. Di tengah kami menikmati teh, datang satu lagi anggota SCC bergabung, sesepuh SCC juga, Pak Riyanto namanya, atau sering kami panggil Pak Ri. Segelas teh kami pesan lagi buat Pak Ri. Saat sedang enak-enaknya menikmati teh, sebuah panggilan via whatsapp call berbunyi. Ternyata Pak Pur yang menelepon. "Ayo Pak berangkat, men ra kawanen," bunyi suara di ujung sana. Segera kami bergegas menghabiskan teh, ambil sepeda dan pancal pedal menuju tikum.

Di rumah Pak Pur sudah ada goweser SCC lainnya, ada Pak Muhshon, Pak Andi, Pak Puji, Pak Sumbul, dan tentu saja sang tuan rumah, Pak Pur. Jam menujukkan pukul 07.30 wib ketika kami mulai pancal pedal. Jalan antara Cawas-Semin menjadi tantangan pertama untuk ditaklukkan. Jalan menanjak membuat dua goweser SCC harus menuntun tunggangannya. Tak masalah, kita kan goweser tabah...hahay...



Selepas tanjakan jalan Cawas-Semin, jalanan yang kami lalui tampak lebih ringan. Tak ada lagi tanjakan yang ekstrim dan menguras tenaga. Di Pertigaan Pasar Semin, kami mengambil jalan ke kiri menuju jalan Semin-Karangsari. Jalan tak begitu mulus, beberapa ruas jalan tampak rusak. Namun di sebelah kiri jalan, tampak sungai yang sejuk dipandang. Sedangkan sebelah kanannya tampak bebatuan dan sawah yang memanjakan mata. Selepas menyusuri jalan Semin-Karangsari kami bertemu kembali dengan jalan Semin-Manyaran. Kami putuskan ambil kanan menyusuri jalan Semin-Manyaran yang begitu mulus, maklum jalan provinsi, jadi kualitasnya pun beda. 

Sebelum menyusuri lebih dalam jalanan menuju Grojokan Banyunibo, kami memutuskan untuk mencari warung makan untuk mengisi perut yang mulai keroncongan. Akhirnya kami menemukan satu warung di sisi kanan jalan Semin-Manyaran, warung "Anik Aneka" namanya. Kami memesan gado-gado dan teh hangat. Tak lupa kami minta izin kepada tuan rumah si pemilik warung untuk sekadar buang air kecil. Maklum, lebih baik ditap lebih dini daripada nanti kesulitan di jalan.



Makan-makan selesai, lanjut pancal pedal lagi menuju Grojokan Banyunibo. Efek sarapan ternyata manjur juga. Tampak para goweser SCC lebih bersemangat. Namun ada satu goweser yang justru termehek-mehek pancal pedal, akibat kekenyangan, Pak Ri, sesepuh goweser MTB nan tabah. 

Perjalanan mulai memasuki fase berat tatkala memasuki jalan menuju Desa kepuhsari. Beberapa goweser SCC masih berusaha mencoba kekuatan kaki untuk memancal pedal. Namun apa daya, tanjakan yang lumayan ekstrim memaksa beberapa goweser SCC menjadi goweser MTB nan tabah. 





Tanjakan yang cukup ekstrim benar-benar menguji kekuatan kaki untuk terus mengayuh pedal. Pak Pur yang terkenal dengan goweser tabah tampak tetap mampu mengendarai sepedanya. Pak Puji yang biasanya juga cukup tabah menghadapi tanjakan ekstrim, kali ini harus berhenti sejenak melepas lelah. Sedangkan Pak Ri, jangan ditanya, goweser satu ini merupakan goweser MTB tertabah di komunitas kami. Selepas menaiki tanjakan yang lumayan ekstrim, kami sejenak beristirahat. tampak wajah lelah tapi bahagia menyelimuti diri para goweser SCC.




Tak lama setelah menaiki tanjakan dan menuruni turunan, sampailah kami di Gunung Kotak, sebuah tempat yang cocok sekali untuk spot berfoto ria. Pemandangannya sungguh menakjubkan. Bebatuan yang menjulang tinggi menjadi tempat kami memandang lahan pertanian nan luas di bawah sana. Hijau alam semakin menambah segarnya pandangan mata. Rasa lelah sedikit terobati. Ayooo...saatnya berfoto.





Perjalanan dilanjut. Untuk mencapai Grojokan Banyunibo, kami masih harus menempuh jalan yang naik turun selepas Gunung Kotak. Para goweser MTB dengan tabah dan penuh semangat menuntaskan perjalanan menuju tujuan. Sekitar 20 menit perjalanan kami akhirnya sampai di area persawahan dengan jalan yang menanjak dan sedikit licin. di area inilah kami harus meninggalkan sepeda kami dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menyusuri persawahan untuk sampai ke Grojokan Banyunibo. Sekitar sepuluh menit perjalanan berjalan kaki akhirnya sampailah kami pada tujuan, Grojokan Banyunibo.





Puas menikmati keindahan dan kesegaran Grojokan Banyunibo, kami pun melanjutkan perjalanan untuk kembali pulang. Perjalanan yang menyenangkan dan melelahkan. Perjalanan pulang juga penuh tantangan. Hal-hal tak terduga pun kadang terjadi. Seperti apa yang dialami Pak Sumbul ketika RD-nya tersangkut mur dan bengkok. Beruntung ada goweser terampil seperti Pak Muhshon dan Pak Khorudin. Berbekal kunci bawaan dari rumah dan pinjam bengkel pinggir jalan, akhirnya sang sepeda dapat kembali dipancal menuju rumah.



Kisah perjalanan goweser MTB tabah menuju Grojokan Banyunibo tuntas sudah. Saatnya merenggangkan otot, beristrirahat di rumah, sambil menentukan kembali sasaran gowes berikutnya.

Oya sebagai catatan goweser MTB tabah adalah goweser Munggah Tuntun Bareng tabah. Dan goweser MTB tertabah dalam ekspedisi Grojokan Banyunibo kali ini menjadi hak Pak Ri, sesepuh SCC dari Bayat. Salut hehe...

Salam Pancal Pedal!

Tetap dijepret dengan Nikon D5100



Jumat, 12 Februari 2021

 


SCC Menuju Gerbang Banyu Langit

Sworo angin/angin seng ngeridu ati/ngelingake sliramu seng tak tresnani/pengen nangis/ngetokke eluh neng pipi/suwe ra weruh/senajan mung ana ngimpi

......

Ademe Gunung Merapi Purba/melu krungu swaramu ngomongke apa/Ademe Gunung merapi purba/sing neng nglanggeran Wonosari Yogyakarta

Begitulah sang maestro campursari, almarhum Didi Kempot melantunkan lagu Banyu Langit. Suaranya melengking laksana bebatuan Gunung Api Purba yang menjulang. Lengkingan suara itu pula yang tampak pada semangat kelima goweser dari Stemsend Cycling Club (SCC) menuju Gerbang Banyu Langit, Gunung Api Purba.

Hari yang sedikit berawan. Maklumlah musim hujan masih melekat erat dengan bulan Oktober. Hujan masih akrab dengan bumi. Sebuah rencana dadakan diadakan oleh SCC hari itu, mengadakan tur menuju Gunung Api Purba dengan bersepeda. Kali ini tak banyak personel yang bisa ikut dalam tur ini. Hanya lima orang yang berani pancal pedal menuju GAP. Kelima orang itu ialah Pak Purwoko (sesepuh SCC), Pak Sumbul Kusno, Pak Andi (koordinator SCC yang terkenal dengan semboyan "selamat pagi!"), Pak Muhshon Khoiri dengan kebo irengnya, dan Pak Khoirudin. Bisa dikatakan, kelima anggota SCC ini merupakan pentolan dari SCC. Dedikasi dan semangat mereka jangan ditanya lagi. Kalau ada tempat yang menarik hati, tak perlu waktu lama mereka untuk pancal pedal menuju ke sana.

   

    
Jalan naik turun dengan pemandangan samping kanan dan kiri nan syahdu menemani gowes kami. Sebuah perjalanan yang tak mudah memang, namun menantang. Semangat menjadi modal utama kami dalam mengayuh pedal di atas aspal. Meski kontur jalan naik turun laksana rollercoaster, kami bersyukur kondisi aspal jalan begitu mulus untuk dilalui. Hal ini memudahkan dan meringankan perjalanan kami. 
Sebagaimana tur-tur lainnya, master speed tetap dipegang Pak Andi. Hasil konsistensi berlatih begitu tampak pada dirinya. Apalagi ditambah spesifikasi sepeda yang yahud, melajulah ia dengan lenggangnya. Namun, faktor latihanlah yang paling utama. Maka benarlah sebuah petuah bijak yang berbunyi "practice make perfect", latihan membuat sempurna. Sebuah petuah yang tak hanya berlaku dalam dunia goweser saja, tetapi juga berlaku umum dalam kehidupan sehari-hari.


Setelah sekitar tiga jam mengayuh pedal, diselingi dengan istirahat sejenak di sebuah pos ronda, akhirnya sampai juga kami di pos masuk Gunung Api Purba. Tampak rona kepuasan pada wajah-wajah kelima goweser. Lelah, letih terbayar saat kaki menapak tempat tujuan. Sesi berfoto ria pun tak ketinggalan. Mulailah para goweser berpose. Cepreeettt.....



Setelah puas berpose ria, satu lagi ritual yang tak boleh ditunda-tunda, SARAPAN! Kami segera mencari warung sekadar untuk mengisi perut yang sedari di perjalanan terus berbunyi. Bukan lagi keroncongan, tetapi sudah level seriosa tingkat dewa. Ternyata tak mudah menemukan warung makan di sekitar GAP saat pandemi covid-19 seperti saat ini. Kami harus putar-putar dulu sebelum memutuskan sebuah warung pinggir jalan untuk mengisi perut kami. Segera saja piring kami isi nasi dan lauk, santap! Urusan perut memang jangan ditunda-tunda, apalagi setelah melakukan perjalanan yang menguras tenaga.



Ritual sarapan selesai. Wajah-wajah yang tadi pucat kini sumringah kembali. setelah sarapan dan ngobrol ngalor-ngidul ala kadarnya, kami kembali pancal pedal pulang. Meski perjalanan pulang lebih didominasi kontur jalan yang menurun, hal itu tak membuat kewaspadaan kami mengendarai sepeda menurun. Justru dalam posisi jalan menurun inilah dibutuhkan kecakapan dari goweser. Kelihaian memainkan rem dan mengendalikan sepeda menjadi hal penting dan mutlak agar tidak ada peristiwa yang tidak diinginkan. Sebab kebanyakan kecelakaan yang menimpa goweser justru lebih banyak terjadi di jalanan yang menurun.


Sampai wilayah Klaten cuaca sudah sedikit panas. Awan seakan tak mampu menahan gejolak sang matahari yang ingin menyinari bumi. Perjalanan menuju Gunung Api Purba sudah tertuntaskan. Tempat-tempat lain sudah menunggu di rencana ke depan. Perjalanan menuju Gunung Api Purba memang melelahkan. Namun pengalaman dan kesan dalam perjalanan akan menjadi sesuatu yang abadi dalam batin kami. 


Salam Pancal Pedal!
Diabadikan melalui jepretan Nikon D5100

Kamis, 11 Februari 2021


 Hidup di Depan Kita Masih Misteri
Tak ada seorang pun yang mengetahui kehidupan di depan mereka. Semua itu masih terselubung dan rahasia. Seorang yang berdagang tak mengetahui akankah dagangan hari itu laris, untung, atau bahkan merugi. Seorang nelayan yang mencari ikan, tak kan pernah tahu akankah hari itu ia akan menemukan ikan tersangkut pada jaring yang ia tebarkan, semua masih misteri. Ketidaktahuan akan masa depan inilah yang dalam pandangan manusia optimistis menjadi sebuah tantangan. Namun bagi manusia pesimistis, ketidaktahuan itu akan menjadi sebuah ketakutan yang mengerikan. Menjalani hidup memang tidaklah mudah. Apalagi bagi kaum yang akses kiri dan kanannya lemah. Mereka mesti banting tulang, peras keringat. Itu saja masih terasa kurang sehingga kekhawatiran apakah anak istrinya dapat makan menjadi persoalan yang mendasar. Beruntunglah bagi orang-orang yang berkecukupan. Orang-orang yang bila menginginkan sesuatu, mereka dapat memenuhinya. Di sinilah fungsi sebuah tepa selira diejawantahkan. Bagi yang mampu, sudah sepatutnya menjaga perasaan saudara-saudara mereka yang kurang atau bahkan tidak mampu. Masih banyak di sekitar kita yang bagi mereka memenuhi kebutuhan dasar bagi anak dan istri masih terasa sulit. 
Di zaman modern yang serba cepat dan terbuka, rasa tepa selira ini semakin terlihat menipis. Zaman yang melipat ruang dan waktu sehingga semakin menyempit ini begitu vulgar dan banal mempertontonkan segala macam aktivitas manusia. Sifat narsis manusia seakan menemukan pasangannya kala media sosial merasuki kehidupan manusia zaman modern. Kehidupan semakin terbuka untuk orang lain mengetahui aktivitas manusia lainnya. Sifat narsis yang dalam frasa ekstrimnya disebut suka pamer menjadikan kualitas kehidupan semakin kacau dan menggalaukan. Dulu, saat media informasi ataupun media sosial tidak segencar saat ini, kehidupan terasa begitu lengang, begitu tenang. Kini, dengan semakin bertambahnya pengguna media sosial, kualitas keheningan hidup sedikit demi sedkit mulai terkikis dan digantikan riuh rendah ucapan maupun perilaku yang seringkali membuat kehidupan terasa tak nyaman. Akan tetapi, sebagai manusia yang terus berkembang, segala peristiwa kehidupan memang mesti disikapi secara bijak dan arif. Tantangan hidup ke depan memang tak akan bertambah mudah. Resistensi akan semakin ketat dan menghebat. Di sanalah dibutuhkan jiwa-jiwa yang kuat dan pantang menyerah.




 Asesmen Kompetensi Minimum

Berbagai pembaharuan perlu dilakukan sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan, terutama dalam menghadapi tantangan global yang penuh dengan berbagai perubahan yang sangat cepat. Pemerintah, melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia telah menyusun berbagai kebijakan di bidang pendidikan dalam upaya meyesuaikan diri dengan perubahan kondisi dan tuntutan yang berkembang di dunia pendidikan. Salah satumya adalah peningkatan sistem evaluasi pendidikan dengan tujuan utamanya adalah mendorong perbaikan mutu pembelajaran dan hasil belajar peserta didik, melalui asesmen nasional pada tahun 2021. 

Asesmen Nasional tidak hanya dirancang sebagai pengganti Ujian Nasional dan Ujian Sekolah Berstandar Nasional, tetapi juga sebagai penanda perubahan paradigma tentang evaluasi pendidikan. Nadiem Anwar Makarim mengatakan perubahan mendasar pada Asesmen Nasional adalah tidak lagi mengevaluasi capaian peserta didik secara individiu, akan tetapi mengevaluasi dan memetakan sistem pendidikan berupa input, proses, dan hasil. Asesmen Nasional pada tahun 2021 dilakukan sebagai pemetaan dasar (baseline) dari kualitas pendidikan yang nyata di lapangan, sehingga tidak ada konsekuensi bagi sekolah dan murid.

Potret layanan dan kinerja setiap sekolah dari hasil Asesmen Nasional ini kemudian menjadi cermin untuk melakukan refleksi dalam mempercepat perbaikan mutu pendidikan Indonesia.

Asesmen Nasional 2021 adalah pemetaan mutu pendidikan pada seluruh sekolah, madrasah, dan program kesetaraan jenjang sekolah dasar dan menengah, Asesmen Nasional terdiri dari tiga bagian, yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar.

Bagian pertama dari Asesmen Nasional adalah AKM yang dirancang untuk mengukur capaian peserta didik dari hasil belajar kognitif yaitu literasi dan numerasi, yang merupakan syarat bagi peserta didik untuk berkontribusi di dalam masyarakat, terlepas dari bidang kerja dan karier yang ingin mereka tekuni di masa depan.

Bagian kedua dari AsesmenNasional adalah Survei Karakter (SK) yang dirancang untuk mengukur capaian peserta didik dari hasil belajar sosial-emosional berupa pilar karakter untuk mencetak Profil Pelajar Pancasila. “Beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME serta berakhlak mulia, berkebhinekaan global, mandiri, bergotong royong, bernalar kritis, dan kreatif,” tutur Mendikbud.

Bagian ketiga dari Asesmen Nasional adalah Survei Lingkungan Belajar (SLB) untuk mengevaluasi dan memetakan asppek pendukung kualitas pembelajaran di lingkungan sekolah.

Ada beberapa perbedaan Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimun dan Survei Karakter.

Jika Ujian Nasional diselenggarakan pada akhir jenjang sekolah, Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter akan diselenggarakan pada pertengahan jenjang sekolah, dengan harapan memberikan kesempatan pada guru untuk melakukan perbaikan. Ini sifatnya formatif berguna bagi sekolah dan juga siswa.

Asesmen kompetensi itu punya beberapa manfaat, yaitu memperkaya penilaian formatif di sekolah, menjadi alat bagi guru untuk mendiagnosis kemampuan siswanya pada topik-topik yang substansial, dan menjadi inspirasi kepada guru untuk memperkaya konteks dan level kognitif dalam penilaian tingkat kelas.



Selasa, 18 Agustus 2020

Bakat dan Kebutuhan

 




Tanpa pengungkapan diri, hidup kehilangan spontanitas dan keceriaan. Tanpa pelayanan kepada orang lain, hidup kehilangan makna dan tujuan. Memandang diri kita sebagai seniman dalam kerja apa pun yang kita lakukan memberi kita metafora bagi kehidupan yang penuh integritas, pelayanan, kebahagiaan, dan unggulan. Saya tidak tahu ada pernyataan ringkas yang lebih baik mengenai jalan menemukan panggilan hidup sejati seseorang dibanding resep sederhana yang diberikan Aristoteles: tatkala bakatmu dan kebutuhan dunia bertemu, di situlah terletak profesimu. Keduanya, bakatmu dan kebutuhan dunia, adalah paggilan menghentak bagi pekerjaan sejatimu dalam kehidupan. Mengabaikan salah satunya, dalam kadar tertentu, sama saja menghilangkan jiwamu.
                             (Laurence G. Boldt, 1992, Zen and the Art of Making a Living)