Minggu, 29 November 2015

THOLE


Sore itu Thole baru pulang dari sekolah. Ya, anak sekolah sekarang memang pulang ketika waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 WIB. Lelah pikiran dan tubuh pun sudah mendera. Ia berharap bila sampai di rumah segera dapat beristirahat. Namun, harapan tinggalah harapan. Pulang sekolah, ia tak tega melihat ayahnya yang masih berkutat dengan sawah yang digarapnya. Tubuh ramping ayahnya dan sedikit keriput di wajah, membuat hati si Thole tergerak untuk membantunya. Sawah sewaan dari Pak Amir, seorang pegawai bank pemerintah memang tak jauh dari rumahnya. Thole bergegas mengganti baju sekolahnya dengan kaos oblong warna coklat yang tersampir di kursi kamarnya. Berganti celana pendek dan langsung menghambur ke sawah setelah meneguk segelas air putih.
Thole, anak ketiga dari seorang buruh tani kini telah duduk di kelas XI sebuah SMK di daerahnya.
Bagi Thole, ayahnya adalah guru. Ya, guru yang selalu mengajarkan kerja keras, tak peduli sesulit apa pun hidup. Ia merasa beruntung memiliki seorang ayah, yang walaupun kehidupan begitu sulit, tetap punya tekad menyekolahkan anak-anaknya. Eko, kakaknya yang pertama telah lulus SMK tiga tahun yang lalu, kini telah bekerja di salah satu perusahaan otomotif terkemuka. Siska, kakaknya yang kedua, kini juga sudah bekerja di pabrik garment di wilayahnya. Pernah suatu ketika ayahnya berucap kepada mereka bertiga, saat selepas maghrib mereka berkumpul di ruang tamu yang sekaligus sebagai ruang keluarga, "Lhe, Ndhuk, Bapak memang tidak punya warisan yang melimpah, tetapi Bapak akan mati-matian agar kalian mampu bersekolah. Bapak hanya akan mewariskan ilmu pada kalian, karena ilmu itulah yang akan membawa kalian untuk tetap bertahan di ganasnya kehidupan." Thole hanya memandang ayahnya. Tak terasa matanya berkaca-kaca. Ia bertekad tak akan pernah mengecewakan ayah dan juga ibunya. Baginya, ibu dan bapaknya adalah guru pertama yang ia contoh dalam perkataan dan tindak tanduk. Baginya pula, rumah adalah madrasah tempat ia menimba ilmu 24 jam. Ya, walau rumah itu tah semewah dan semegah gedung sekolah atau kantor pemerintah. Rumah yang hanya semipermanen dengan lantai batubata yang belum sempat di semen, ia bersyukur. Baginya, mempunyai seorang ayah dan ibu yang penuh tanggung jawab adalah berkah yang luar biasa. Sebab, ia melihat di jalanan, masih banyak anak-anak yang tak dipedulikan orang tuanya.
Menjelang maghrib, Thole membersihkan dirinya dari lumpur yang menempel di kakinya. Ia memandang ke cakrawala. Melihat matahari yang mulai menyusup di pegunungan meninggalkan siluet kekuningan. Dalam batin ia berucap...Tuhan, mudahkanlah jalanku, kuatkanlah kaki dan batinku agar kelak aku dapat membahagiakan dan mampu membalas jasa orang tuaku. Gelap mulai menyelimuti alam. Thole bergegas menuju rumah ketika tetanggannya menyusul dan mengajaknya pulang ke rumah sambil berkata,"Thole ayo pulang...ibumu...kuatkan batinmu Nak"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar