Senin, 03 Oktober 2011

Puisi-puisiku


SAJAK SEORANG GURU KEPADA MURIDNYA
Anakku...
Apa yang bisa kukatakan padamu
Sewaktu engkau terduduk lesu, tertidur di meja kayu
Dengan seragam kusut, tanpa semangat, dan kuyu
Atau di saat engkau bermain handphone sewaktu aku membelajarkanmu
Atau di saat engkau berceloteh tak jelas dan saru
Anakku...
Tahukah engkau bahwa beban negara ada di pundakmu?
Tahukah engkau bahwa keluargamu begitu mengharapkanmu?
Agar engkau menjadi asa di tengah keputusasaan
Anakku...
Aku mengerti perasaanmu
Perasaan ingin dihargai
Perasaan ingin dimengerti
Dan perasaan-perasaan lain yang menginginkan engkau lebih
Tapi anakku...
Engkau pun harus mengerti, tidak mudah membangun harga diri
Tak mudah meluangkan waktu ‘tuk memahami pribadi demi pribadi
Harga diri didapat karna kita berprestasi anakku...
Dan prestasi kita raih bila kita berjuang tanpa henti
Anakku...
Ayah ibumu, kakakmu, adikmu, eyangmu, pakdemu, budhemu dan seluruh manusia
Pun Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Bijaksana, mengharapkan engkau menjadi manusia terbaik
Tak ada satu makhluk pun yang menginginkan engkau tak berguna anakku..
Do’a mereka adalah kekuatan bagimu untuk maju
Berjuanglah anakku
Walau badai menghadang
Hujan dan halilintar bergemuruh menahan laju langkahmu
Pantang surut sejengkal tanah pun anakku
Karna aku kan mengokohkan kuda-kudamu
Kan aku kuatkan jiwamu dengan semangatku
Ingatlah anakku
Aku tak kan pernah jauh darimu
Aku ‘kan slalu memegang erat tanganmu di kala engkau goyah
Mari rapatkan barisan anakku
Kita maju bersama menyongsong era baru
Era kebangkitanmu, aku, dan seluruh malaikat yang menginginkan dunia ini bersatu
Bersatu dalam semangat fastabiqul khairot
Berlomba-lomba dalam kebaikan
Agar kita kelak menjadi satu
Di surga Tuhanku, Tuhanmu, dan Tuhan seluruh alam
Selamat berjuang anakku
Do’a dan semangat kutitipkan bersamamu



Bajaj
Tiga kakinya menapak aspal panas
“kakimu kurang,” kata BMW
“Makhluk aneh,” kata Opel Blazer
“Barang rongsokan,” Mercedes Benz ikut menimpali
Sang Bajaj tetap diam
Dalam diam dia berpikir, lalu buka suara
“Masa bodoh dengan ocehan kalian
Aku punya niat baik
Menolong manusia di garis bawah
Untuk menyambung hidup anak istrinya
Aku justru kasihan pada kalian
Yang hanya dijadikan barang pameran
Kalian tlah merusak hakikat hidup manusia
Yang harusnya cinta sesama jadi cinta harta
Kalian.....,” Bajaj tak jadi meneruskan kata-katanya
Sebab BMW, Opel Blazer, dan Mercedes Benz telah berlalu bersama kecongkakannya



Khianat
“Khianat”
Kata tercela
Tapi ia akan jadi indah dan barokah
Bila kita mampu menempatkannya
Khianat pada dosa
Khianat pada kesombongan
Khianat pada kekotoran
Khianat pada kebatilan
Khianat pada kemaksiatan
Khianat pada kemudharatan
Khianat pada kejahiliyahan
Khianat pada kekafiran
Khianat pada kezaliman
Khianat pada kemunafikan
Khianat pada keserakahan
Khianat pada sumber kehancuran, kebodohan, dan ketidakadilan
Pada konteks itu,
Kata khianat wajib adanya
Sebab itu mari kita ikrarkan
Jadilah pengkhianat segala kemunduran moral, budaya pemikiran, dan kemunduran iman


Masihkah Ada
Bertahun-tahun pengembaraanku
Kuhadapi padang pasir kerontang tanpa hawa
Saatnya sejenak kembali menuju oase yang tlah lama hilang
Kampusku!
Ingin kuraih kembali sisa-sisa idealisme di sana
Tuk mengisi semangat yang tlah tergores cita-cita pragmatisme jalanan
Mengisi kembali otakku dengan ide-ide baru
Tuk kembali berjuang menahan gempuran dajjal-dajjal kehidupan
Namun satu yang kutakutkan
Masih adakah amunisi idealisme di kampusku
Atau
Di sanalah sebenarnya idealisme itu mulai terpinggirkan
Tergantikan oleh kepentingan-kepentingan sesaat
Yang akan menghancurkan hakikat kemanusiaan kita
Aku tak tahu



Refleksi
Sayang ....
Tetaplah bersemayam dalam lubuk hatiku
Walaupun kenyataan tak memihak kita
Namun kenyataan itu harus kita terima
Ikhlaskan dengan segala sukma
Walau kita tak kuasa menahan sakit dan pedihnya
Selalu ingatlah sayang .....
Kita hidup bagaikan sebuah wayang
Tanpa daya, tanpa kuasa kepada sang dalang
Sayang ..... ingatlah selalu
Bahwa inti sukmaku kan slalu bersamamu
Takkan lekang oleh waktu dan masa
Walaupun kita nanti ‘kan berpisah, sayang ....
Jadilah engkau selalu pelita yang menyinari kehidupan setiap orang
Buatlah hidupmu berguna bagi sesama
Sayang ...... sungguh ku ‘kan slalu mengenangmu
Sebagai cahaya yang pernah mengisi dan menyinari perjalanan hidupku
Sayangku ..... janganlah engkau bersedih
Banggalah, wahai engkau sayangku
Ternyata cahyamu nan cemerlang dibutuhkan pula oleh orang lain
Berikanlah sinarmu, sayangku
Berikan dengan penuh rasa cinta dan keikhlasan
Jangan kau kurangkan dan hilangkan
Jiwa, sukma, dan do’aku kan slalu bersamamu
Menyertai kehidupanmu kelak
Sayangku, bebaskanlah alam pikirmu
Terbanglah bagai burung camar di pantai yang luas
Nikmatilah hidupmu, sayangku ...
Jangan kau sia-siakan anugrah yang telah diberikan-Nya padamu
Sayangku .... dengan penuh penyesalan dari dasar lubuk batinku
Aku ingin mengatakan sesuatu padamu
Maafkanlah aku yang tak mampu memenuhi harapanmu
Tuhan telah memberikan jalan yang berbeda bagi kita
Kita dicipta untuk saling sayang, namun tidak untuk bersama
Ingatlah sayang, kebahagiaan suatu saat kan berganti kesedihan
Dan kesedihan suatu saat kan berganti kebahagiaan
Sayangku .....
Jiwa tak ‘kan pernah mati walau jasad tlah mengering
Ingatlah sayangku ...
Jiwaku kan slalu menyatu dalam jiwamu
Walau raga ini tak kau miliki
Sayangku, tahukah kau?
Tuhan mahatahu sayangku...
Ia tahu rahasia kehidupan kita
Ia pasti kan memberikan yang terbaik bagi kita
Sayangku .... suatu saat kau kan mengerti rahasia itu
Rahasia yang kita sebelumnya tak pernah tahu
Oh .....kekasihku, sayangku ...
Terasa aku tlah lelah
Batinku serasa ingin berhenti sejenak dalam mengarungi hidup
Rasanya ingin kupejamkan mata ini
Mencoba tuk berganti kenyataan hidup
Kasihku ... rasanya kuingin hidup ini segera berganti tema
Kucoba tuk menahan rasa sesak di dada ini kasihku
Rasanya ingin meledak, berontak, teriak dengan kenyataan hidup ini
Kasihku, tahukah kau?
Malam ini kudengar nyanyian alam
Mengajakku tuk berkaca diri
Menyelami jiwa
Mendalami batin
Menorehkan pena
Menuliskan cerita
Membaca kenyataan
Meredam emosi
Menghayati hidup
Memupuk asa
Menahan gelora
Menata cita-cita
Dan mengasihi sesama




NASIONALISME
Nampak merah padam bumi pertiwi
Akibat ulah dusta para kurcaci
Setiap langkah tersungkur karma
Intan tertambat belenggu nista
Oi...orang indonesia
Nyatakan tiada dusta antara kita
Lenyapkan angkara murka
Indahkan cinta sesama
Satukan raga dan jiwa
Mantap teriakkan kata:
Enyah kau pendusta bangsa!


Arti sebuah kemenangan
Apa itu kemenangan?
Apakah dikala kita lebih kuat dari orang lain
Apakah dikala kita lebih pintar dari orang lain
Apakah dikala rumah kita lebih bagus dari orang lain
Apakah dikala mobil dan motor kita lebih baru dari yang lain
Apakah dikala kita bisa mempermalukan orang lain
Apakah dikala handpone kita lebih mutakhir dari yang lain
Apakah itu yang bernama kemenangan?
Sebuah kemenangan menghasilkan ketenangan
Kemenangan adalah ketika kita diseru:
“Wahai jiwa yang tenang.
 Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya.
 Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku,
 dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
 Dan kita mengikutinya
 Itulah arti sebuah kemenangan



Sewajarnya I
Hari ini kuberpikir
Apa arti hidup?
Berkuasa?
Kaya?
Terhormat?
Atau...
Apa?
Hidup harus bermakna
Makna adalah isi
Jadi, hidup harus berisi, berarti
Bagai padi
Semakin berisi semakin menunduk
Tapi apa yang terjadi?
Yang berisi makin arogansi
Yang berisi dagunya mendongak tinggi
Inikah yang dinamakan berisi?
Ia selalu ingin dihormati




Sewajarnya 2
Menunduk menatap langit
Dunia rasa semakin sempit
Demi Tuhan aku ingin sewajarnya
Hidup sewajarnya
Mencinta sewajarnya
Bahagia sewajarnya
Sedih sewajarnya
Tapi ...
Aku belum bisa
Nafsu sering menggerogoti pertahananku
Kucoba lawan!
Makin besar tekanan kurasakan
Tuhan ....
Aku tahu Engkau Mahatahu
Dalam lubuk hatiku
Aku bertekad
Aku ingin hidup sederhana
Sewajarnya dan bahagia
Itu saja



Takdir
Tertawa
Menangis
Adalah rona-rona kehidupan
Senang
Sedih adalah lika-liku keadaan
Kita hanyalah makhluk yang lemah
Tuhan....Allah
Mahabesar
Mahatinggi
Mahatahu
Mahamelihat
Mahapenentu
Hanya kepada-Nyalah kita berharap
Dan bila hal yang engkau citakan tak jua sampai
Terimalah hal itu dan berusahalah




Bahasa

untuk download file PDF ejaan yang disempurnakan klik saja link http://www.ziddu.com/download/16643098/pedoman_umum-ejaan_yang_disempurnakan.pdf.html

Sabtu, 01 Oktober 2011

Cerpenku



RODA PEDATI
Siang itu begitu teriknya. Di sebuah kampung yang terasa sepi, kering, merangas, debu-debu berterbangan seolah mencari sasaran untuk hinggap. Sebuah wajah tua tengah sibuk mengumpulkan jerami untuk dinaikkan di atas roda pedati. Sapi yang sepertinya kurang terurus, kurus, sedang menanti dengan sabar sang majikan.
“Kusno, nanti kalau sudah selesai, tolong dibantu ya... Ndoro kakung mau jalan-jalan melihat-lihat sawahnya,” ucap Ndoro Putri, yang usianya kira-kira sudah 65 tahun itu. “Baik Ndoro Putri.” Pak Kusno menjawab sambil membungkukkan badannya.
 Ndoro Kakung Harjoprawiro adalah seorang juragan yang sangat kaya. Sawahnya saja ada dimana-mana. Ternaknya, dari sapi, kerbau, kuda, dan burung piaraan semuannya terurus dengan rapi. Semua itu tak lebih dari jasa Pak Kusno, seorang penarik pedati yang sudah berumur sekitar 70 tahun, hampir sama dengan usia Ndoro Kakung. Pak Kusno telah mengabdi hampir 30 tahun di keluarga itu.
Ndoro Kakung Harjoprawiro walaupun kaya raya, namun ia tidak sempat menikmati hasil jerih payahnya. Ia terserang stroke, sehingga untuk berjalan saja ia harus dibantu. Ia hanya dapat menggerakkan tangan kanannya. Sehari-hari, Pak Kusno lah orang yang paling setia menemaninya. Sedangkan Ndoro Putri, sibuk dengan acara ibu-ibu yang sangat jelimet dan ruwet, serta terkesan diada-adakan. Acara yang dibuat untuk kedok disaat mereka ingin ngerumpi, membicarakan kejelekan, dan ngrasani orang lain.
Pak Kusno, laki-laki yang tubuhnya tak setua usianya. Di usia 70 tahun, tubuhnya masih kelihatan sangat kekar, walaupun terlihat goresan penderitaan di sela-sela sembulan otot-ototnya. Pribadinya yang santun, jujur, tanggap dan bertanggung jawab terhadap tugasnya secara diam-diam telah dicium oleh Ndoro Kakung Harjoprawiro.
Setelah menyelesaikan tugas merapikan jerami, Pak Kusno bergegas mengambil dokar yang terparkir di dekat kandang kuda di samping rumah. Segera ia menggendong Ndoro Kakung Harjoprawiro dan didudukkannya di dekat kendali kekang kudanya. Ndoro Kakung memang sudah tidak dapat bicara, tetapi otak dan pikirannya masih terlatih untuk berpikir secara sehat. Ia terserang stroke, lain dan tak bukan adalah karena perilaku Ndoro Putri yang suka obral harta dan obral omongan ke sana-sini. Tak hanya itu, perilaku kedua anaknya, Suparno dan Parti juga sangat menekan jiwanya. Suparno, anak laki-laki pertamanya, yang ia gadang-gadang untuk dapat meneruskan dinastinya ternyata tak lebih seperti benalu beracun dalam dagingnya. Perilakunya sungguh membuat malu keluarga. Ia sering gonta-ganti pasangan entah dengan gadis-gadis tetangganya sendiri ataupun dengan gadis-gadis yang tak jelas juntrungannya dari mana, yang nyata ia sering dilabeli play boy kampung. Dan kini Suparno entah kemana, Ndoro Kakung pun tak mau tahu. Sedangkan Parti, yang sejatinya tak begitu cantik, karena tidak puas atas pemberian nama dari orang tuanya yang terkesan ndeso, ia mengubah namanya menjadi Elizabeth. Entah karena tergila-gila dengan nama ratu Inggris atau karena alasan lain, dan yang pasti ia kini hidup bak artis-artis ibu kota, dugem di diskotik sampai pagi. Seolah-olah tak pernah mengenal orang tuanya lagi, apalagi Tuhannya. Aktivitasnya seperti hewan malam. Pagi tidur, malam keluyuran.
Hari menjelang sore tatkala Pak Kusno dan Ndoro Kakung mulai berputar-putar untuk melihat sawah-sawahnya.
“Sepertinya tanaman padi yang dekat dengan kali itu sudah siap untuk dipanen Ndoro,” tiba-tiba Pak Kusno membuka pembicaraan.  
“Sudah menguning dan terlihat begitu sehat,” lanjut Pak Kusno sambil menarik tali kekang kuda. Walaupun sebenarnya ia tahu Ndoro Kakung tak dapat menjawab, namun tetap dilakukannya untuk mencairkan suasana yang hening. Ia yakin Ndoro Kakung tetap mengerti.
Ndoro Kakung sejenak menoleh ke sawah yang dimaksud Pak Kusno, kemudian ia sedikit mengangguk tanda mengerti. Menjelang maghrib, laju dokar diarahkannya menuju rumah Ndoro Kakung. Ternyata rumah itu masih sepi. Ndoro Putri ternyata belum pulang. Pelan-pelan diangkatnya tubuh Ndoro Kakung dan didudukkannya di kursi santai di depan rumah, kemudian ia beranjak untuk menghidupkan lampu di dalam rumah.
Beberapa saat kemudian Ndoro Putri datang dengan membawa bingkisan dan barang belanjaan oleh-oleh dari hasil kumpulan dengan ibu-ibu yang sok sibuk di zaman sekarang.
“Noo...Kusnoo..., kamu ini gimana tho, sudah sore begini kok Ndoro kakung masih diangin-anginkan. Nanti kalau masuk angin gimana coba, yang repot kan aku juga. Ayo dibawa masuk ke kamar sana.” Ucap Ndoro Putri saat mengetahui Ndoro kakung masih duduk bersandar di kursi depan.
“Baik Ndoro Putri...” jawab Pak Kusno sambil bergegas menggendong Ndoro Kakung menuju kamar.
Malam itu begitu dingin. Biasa, bila kemarau tiba justru di malam hari suhu udara terasa begitu terasa menusuk tulang. Malam itu Pak Kusno menginap di rumah majikannya. “Entahlah, malam ini terasa akan ada hal yang luar biasa terjadi di rumah ini,” bisik hati Pak Kusno.
Tepat tengah malam pintu digedor-gedor oleh seseorang.
“Buka pintu....ayo cepat buka pintu...” teriak seseorang di luar rumah.
Pak Kusno bergegas berangsut dari dipan, bergegas ia berlari menuju pintu rumah. Dalam hatinya ia berpikir, ada apa malam-malam bertamu tanpa punya rasa sopan santun sedikitpun, apakah ini yang dinamakan zaman modern yang sudah tidak mempunyai tepo sliro, unggah ungguh, ataupun sopan santun. Manusia semakin lama semakin tak peduli dengan aturan dan seenaknya saja.
Dengan bergegas ia membuka daun pintu. Sreeek...., agak kaget Pak Kusno melihat seseorang yang di balik pintu. Juragan Sapto, ya seorang yang terpandang di kampung ini, ada apa malam-malam begini datang menggedor-gedor pintu bagai orang yang sedang dirasuki setan, pikirnya.
“Mana...mana itu yang namanya Parno! Manusia tengik yang berani membawa kabur putriku. Suruh keluar, biar kuhajar sampai mampus!” bentak Juragan Sapto. Suaranya menggelegar bagai petir yang ingin menelan hidup-hidup siapa pun yang ada di hadapannya.
Ndoro Putri yang sejatinya sejak dari tadi tahu ada seseorang yang menggedor-gedor pintu hanya berani mengintip dari balik pintu kamar. Untunglah malam ini Pak Kusno bermalam di sini, kalau tidak apa jadinya aku, begitu pikirnya.
“Maaf Juragan, Den Parno sudah dua minggu ini tidak pulang. Di mana rimbanya, keluarga ini juga tidak tahu Juragan,” sahut Pak Kusno dengan sikap siap siaga bila sewaktu-waktu Juragan Sapto bertindak sesuatu yang di luar nalar.
Dari dalam kamar Ndoro putri semakin kecut hatinya. Wajahnya pucat pasi, seluruh darahnya seolah berhenti. Ndoro Kakung yang sejak dari tadi terbaring di tempat tidur sejatinya mendengar dengan seksama segala percakapan dan kejadian di ruang tamu rumahnya itu. Perlahan ia gerakkan tangan kanannya, entah apa yang akan dilakukannya.
“Puih....bangsat, tengik, manusia nggak tahu diuntung. Begini ya cara keluarga ini mendidik anaknya, kemana-mana hanya bisa membuat pusing orang lain. Awas nanti kalau dia pulang, jangan harap masih bisa berlagak sok ganteng!” sergah Juragan Sapto dengan wajah merah  padam menahan amarah, membanting pintu, dan pergi ditelan gelapnya malam dengan membawa segala sumpah serapahnya.
Merasa ancaman sudah pergi, bergegas Ndoro Putri menghampiri pak Kusno yang masih berdiri di dekat pintu.
“Aduuuh...apalagi sih yang dilakukan Si Parno, sampai-sampai juragan Sapto marahnya luar biasa begitu,” ucap Ndoro Putri sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
“Siapa yang nggak marah Ndoro, kalau putri satu-satunya dibawa pergi orang lain dan nggak jelas sekarang ada di mana?” jawab Pak Kusno sambil memandang wajah Ndoro Putri yang masih pucat.
“Ndoro Kakung bagaimana Ndoro Putri? Saya khawatir kalau kejadian tadi membuat Ndoro Kakung....” tanpa dikomando mereka berdua segera berlari menuju kamar tidur Ndoro Kakung.
Sekilas tampak Ndoro Kakung masih tertidur lelap. Pak Kusno menghampiri dan duduk di samping Ndoro Kakung yang tengah terbaring. Tak ada nafas, tak ada detak jantung, tubuhnya pun sudah dingin. Ndoro Kakung ternyata telah berpulang. Ndoro putri yang sedari tadi berdiri di samping Pak Kusno kini menangis sesengukan. Dilihatnya di samping Ndoro Kakung ada secarik kertas yang terlipat rapi. Pelan-pelan Ndoro Putri mengambil kertas itu kemudian membacanya, tertulis dengan cukup jelas di kertas itu:
SEMUA KEKAYAANKU DARI PERTANIAN, RUMAH, DAN PETERNAKAN AKU WARISKAN SEMUANYA KEPADA KUSNO
Demi membaca kalimat itu Ndoro putri pun akhirnya pingsan. Kini tinggal Pak Kusno yang bingung. Bingung dengan segala kejadian malam itu.
Hidup memang misteri, tak akan ada yang tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Seperti lakon hidup Pak Kusno malam itu. Ya, hidup memang bagai roda pedati, kadang di bawah kadang di atas.

Merenungi dan Memaknai Serat Jongko Joyoboyo


Serat Jongko Joyoboyo
Ronggowarsito
JAMAN EDAN
Pancen amenangi jaman edan,
sing ora edan ora kaduman.
Sing waras padha nggragas,
sing tani padha ditaleni.
Wong dora padha ura-ura.
Begjane sing eling lan waspada.
Ratu ora netepi janji,
musna prabawane lan kuwandane.
Akeh omah ing ndhuwur kuda.
Wong mangan wong,
kayu gilingan wesi padha doyan rinasa
enak kaya roti bolu.
Yen bakal nemoni jaman:
akeh janji ora ditetepi,
wong nrajang sumpahe dhewe.
Manungsa padha seneng tumindak ngalah
tan nindakake ukum Allah.
Bareng jahat diangkat-angkat,
bareng suci dibenci.
Akeh manungsa ngutamakake reyal,
lali sanak lali kadang.
Akeh bapa lali anak,
anak nladhung biyunge.
Sedulur padha cidra,
kulawarga padha curiga,
kanca dadi mungsuh,
manungsa lali asale.
Rukun ratu ora adil,
akeh pangkat sing jahat jahil.
Makarya sing apik manungsa padha isin.
Luwih utama ngapusi.
Kelakuan padha ganjil-ganjil.
Wegah makarya kapengin urip,
yen bengi padha ora bisa turu.
Wong dagang barange saya laris, bandhane ludhes.
Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan.
Akeh wong nyekel bandha uripe sangsara.
Sing edan bisa dandan.
Sing mbangkang bisa nggalang
omah gedhong magrong-magrong.
Wong waras kang adil uripe nggragas lan kapencil.
Sing ora bisa maling padha digething.
Sing pinter duraka padha dadi kanca.
Wong bener thenger-thenger,
wong salah bungah-bungah.
Akeh bandha muspra ora karuwan larine.
Akeh pangkat drajat padha minggat ora karuwan sababe.
Bumi saya suwe saya mungkret.
Bumi sekilan dipajegi.
Wong wadon nganggo panganggo lanang.
Iku tandhane kaya raja kang ngumbar hawa napsu,
ngumbar angkara murka,
nggedhekake duraka.
Wong apik ditampik,
wong jahat munggah pangkat.
Wong agung kesinggung,
wong ala pinuja-puja.
Wong wadon ilang kawanitane,
wong lanang ilang kaprawirane.
Akeh jago tanpa bojo.
Wanita padha ora setya,
laku sedheng bubrah jare gagah.
Akeh biyung adol anak,
akeh wanita adol awak.
Bojo ijol-ijolan jare jempolan.
Wong wadon nunggang jaran,
wong lanang numpang slendhang pelangi.
Randha loro, prawan saaga lima.
Akeh wong adol ngelmu.
Akeh wong ngaku-aku,
njaba putih njerone dhadhu.
Ngakune suci, sucine palsu.
Akeh bujuk.
Wektu iku dhandhang diunekake kuntul.
Wong salah dianggep bener,
pengkhianat nikmat,
durjana saya sampurna.
Wong lugu keblenggu,
wong mulya dikunjara,
sing curang garang,
sing jujur kojur.
Wong dagang keplanggrang,
wong judhi ndadi.
Akeh barang kharam,
akeh anak-anak kharam.
Prawan cilik padha nyidham.
Wanita nglanggar priya.
Isih bayi padha mbayi.
Sing priya padha ngasorake drajate dhewe.
Wong golek pangan kaya gabah den interi.
Sing klebat kliwat,
sing kasep keplesed.
Sing gedhe rame tanpa gawe,
sing cilik kecelik.
Sing anggak kalenggak.
Sing wedi padha mati,
nanging sing ngawur padha makmur,
sing ngati-ati sambate kepati-pati.
Cina olang-aling kepenthung
dibandhem blendhung,
melu Jawa sing padha eling.
Sing ora eling
padha milang-miling,
mloya-mlayu kaya maling,
tudang-tuding.
Mangro tingal padha digething.
Eling, ayo mulih padha manjing.
Akeh wong ijir,
akeh wong cethil.
Sing eman-eman
ora kaduman,
sing kaduman
ora aman.
Selot-selote besuk
ngancik tutupe taun,
dewa mbrastha malaning rat,
bakal ana dewa
angejawantah,
apangawak manungsa.
Apasuryan padha Bathara Kresna.
Awewatak Baladewa.
Agegaman trisula wedha.
Jinejer wolak-waliking jaman,
wong nyilih mbalekake,
wong utang mbayar.
Utang nyawa nyaur nyawa,
utang wirang nyaur wirang.
Akeh wong cinokot lemud mati.
Akeh swara aneh tanpa rupa.
Bala prewangan, makhluk alus padha baris,
padha rebut bebener garis.
Tan kasat mata tanpa rupa,
sing mandhegani putra Bathara Indra,
agegaman trisula wedha.
Momongane padha dadi nayakaning prang,
perange tanpa bala,
sekti mandraguna tanpa aji-aji.
Sadurunge teka ana tetenger lintang kemukus dawa ngaluk-aluk,
tumanja ana kidul sisih wetan bener, lawase pitung bengi.
Parak esuk banter,
ilange katut Bthara Surya,
jumedhul bebarengan karo sing wus mungkur.
Prihatine kawula kelantur-lantur.
Iku tandhane putra Bathara Indra wus katampa
lagi tumeka ing ngarcapada,
ambiyantu wong Jawa.
Dununge ana sikile redi Lawu sisih wetan.
Adhedukuh pindha Raden Gathutkaca,
arupa gupon dara tundha tiga.
Kaya manungsa asring angleledha,
apeparab Pangeraning Prang,
tan pakra anggone anyenyandhang,
nanging bisa nyembadani ruwet-rentenge wong sapirang-pirang.
Sing padha nyembah reca ndhaplang,
cina eling, Syeh-syeh pinaringan sabda gidrang-gidrang.
Putra kinasih swarga Sunan Lawu,
ya Kyai Brajamusthi,
ya Kresna,
ya Herumurti,
mumpuni sakehing laku,
nugel tanah Jawa kaping pindho.
Ngerehake sakabehing para jim,
setan, kumara, prewangan.
Para lelembut kabawah prentah
saeka praya kinen abebantu manungsa Jawa.
Padha asenjata trisula wedha,
kadherekake Sabdopalon Nayagenggong.
Pendhak Suro nguntapake kumara,
kumara kang wus katam nebus dosanira,
kaadhepake ngarsane kang Kuwasa.
Isih timur kaceluk wong tuwa,
pangiride Gathutkaca sayuta.
Idune idu geni, sabdane malati, sing bregudul mesthi mati.
Ora tuwa ora enom,
semono uga bayu wong ora ndayani.
Nyuwun apa bae mesthi sembada,
garise sabda ora gantalan dina.
Begja-begjane sing yakin
lan setya sabdanira.
Yen karsa sinuyutan wong satanah Jawa,
nanging pilih-pilih sapa waskitha pindha dewa.
Bisa nyumurupi laire embahira,
buyutira, canggahira, pindha lair bareng sadina.
Ora bisa diapusi
amarga bisa maca ati.
Wasis wegig waskitha
ngreti sadurunge winarah,
bisa priksa embah-embahira,
ngawuningani jaman tanah Jawa.
Ngreti garise siji-sijining umat,
tan kalepyan sumuruping gegaman.
Mula den udia satriya iki,
wus tan bapa tan bibi,
lola wus aputus wedha Jawa.
Mula ngendelake trisula wedha,
landhepe trisula :
pucuk arupa gegawe sirik agawe pepati utawa utang nyawa.
Sing tengah sirik agawe kapitunaning liyan,
sing pinggir tulak talak colong jupuk winaleran.
Sirik den wenehi ati melathi, bisa kasiku.
Senenge anyenyoba, aja kaina-ina.
Begja-begjane sing dipundhut,
ateges jantrane kaemong sira sabrayat.
Ingarsa begawan wong dudu pandhita.
Sinebut pandhita dudu dewa.
Sinebut dewa kaya manungsa,
kinen kaanggep manungsa sing seje daya.
Tan ana pitakonan binalekake,
tan ana jantra binalekake.
Kabeh kajarwakake nganti jlentreh
gawang-gawang terang ndrandang.
Aja gumun aja ngungun,
yaiku putrane Bathara Indra kang pambayun,
tur isih kuwasa nundhung setan.
Tumurune tirta brajamukti, pisah kaya ngundhuh.
Ya siji iki kang bisa njarwakake
utawa paring pituduh jangka kalaningsun.
Tan kena den apusi
amarga bisa manjing jroning ati.
Ana manungsa kaiden katemu,
uga ora ana jaman sing durung kalamangsane.
Aja serik aja gela
iku dudu waktunira,
ngangsua sumur ratu tanpa makutha.
Mula sing amenangi gek enggala den luru,
aja nganti jaman kandhas.
Madhepa den amarikelu.
Begja-begjane anak putu, iku dalan sing eling lan waspada,
ing jaman Kalabendu nyawa.
Aja nglarang dolan nglari wong apangawak dewa,
dewa apangawak manungsa.
Sapa sing ngalang-ngalangi bakal cures ludhes sabraja dlama kumara.
Aja kleru pandhita samudana, larinen pandhita asenjata trisula wedha.
Iku paringe dewa.
Ngluruge tanpa wadyabala.
Yen menang datan ngasorake liyan.
Para kawula padha suka-suka
amarga adiling Pangeran wus teka.
Ratune nyembah kawula, agegaman trisula wedha.
Para pandhita ya padha ngreja,
yaiku momongane Kaki sabdopalon sing wus adus wirang.

Memaknai Zaman

Inilah wujud keprihatikan Rendra melihat jejak rekam para elit politik bangsa ini. Hal ini mungkin juga berlaku pada diri kita. Maskumambang adalah bentuk kebingungan yang sedang melanda generasi saat ini. Mungkinkah generasi yang mendatang juga akan merasakan hal yang sama? Jawabannya ada dalam diri kita. masihkah kita akan mewariskan kebingungan demi kebingungan kepada generasi yang mendatang. Mereka kita suguhi drama-drama yang menyayat hati, membingungkan nurani, dan membutakan nilai-nilai insani. Maskumambang semoga menyadarkan kita agar bangsa ini tidak masuk dalam tataran "Pucung", yang artinya bangsa ini tinggal nama atau tamat. Mari satukan langkah demi bangsa tercinta, demi anak cucu kita dan tentu demi meraih ridho Yang Mahakuasa.