Kamis, 04 Januari 2018

Pantai, Puncak, Candi


Air...
Pantai...
Karang...
Udara...
Awan...
Ombak...
Biru Laut...
Pagi menghening kala aku menikmati udara Pantai Drini dan Watu Kodok, Gunung Kidul. Kamis, 28 Desember 2017, 3 hari menjelang pergantian tahun, aku bersama "sigaring nyowo" dan Albert, teman touringku bersepakat untuk menginap di dekat Pantai Drini. Malam itu kami menikmati segelas teh dan mie telor buatan ibu pemilik penginapan. Suasana malam Jumat di Pantai Drini cukup sepi, apalagi ditambah guyuran hujan yang datang menuruni angkasa ke bumi. Pukul 23.00 WIB kami bersepakat untuk beristirahat dengan harapan agar di pagi hari dapat menikmati matahari yang muncul dari ufuk timur. Namun sayang, awan mendung membuat mentari tak kuasa menembusnya. Akhirnya kami hanya menikmati semburat sinarnya saja. Tetap saja pantai akan selalu membawa kenangan berbeda dalan jiwa dan mata.

  
Setelah matahari mampu menampakkan sinarnya kami pun mulai menuruni Bukit Watu Kodok menuju Pantai Drini. Kami bertiga memulai berinteraksi dengan air pantai yang cukup bening. Pasir putih di tepian pantai semakin memesona kala tersapu belaian ombak dan menerpa kaki-kaki kami. Belaian lembut ombak berbaur dengan lembutnya pasir putih yang menjadikannya laksana butiran-butiran pasir surga, weh lebay hehe...  Ditambah burung yang juga mencoba menikmati indahnya pagi di pantai dan kadang terbang kian kemari, membuat pemandangan yang memanjakan mata dan menyentuh bathin.



Matahari mulai sedikit meninggi tatkala kami memutuskan untuk meninggalkan Pantai Drini dan menuju Pantai Ngrumput yang bersebalahan dengan Pantai Watu Bolong. Bila kita memulai perjalan ke Pantai Ngrumput dari Pantai Watu Bolong, kita akan dimanjakan hamparan sawah dan bebatuan. Jalan setapak yang dilalui pun cukup menantang. Namun kelegaan akan segera datang tatkala kita sampai di Pantai Ngrumput dan dimanjakan pesonanya.



Masih di area Pantai Ngrumput, kita dapat menaiki sebuah bukit yang bernama Bukit Kosakora. Saat kami menanyakan kepada petugas yang ada di sana apa maksud dari nama Kosakora, mereka pun tak mampu menjawabnya. Hanya kalimat, "Sudah begitu namanya Mas. Dinamai orang para mahasiswa yang dulu pertgama kesini." Ah, mengapa tak dinamakan Bukit Kosakata saja bathinku hehe... Suatu saat kalau aku menemukan bukit akan kunamai Bukit Kosakata saja pikirku haha...
Dengan membayar Rp 2000,- per orang kami akhirnya memutuskan menaiki Bukit Kosakora. Jalan yang berliku penuh bebatuan tak menyurutkan langkah kami yang sudah merasakan sedikit lelah. Setelah menempuh sekitar 20 menit akhirnya sampailah kami di Puncak Bukit Kosakora. Pemandangan laut yang meluas memanjakan mata kami. Ah, anugerah Tuhan memang tak terperi... Namun aku merasa ngeri juga saat sepintas negeriku masih dipenuhi korupsi ah..






Selesai menikmati Puncak Bukit Kosakora kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Ngandong dan Pantai Sundak. Saat Adzan Sholat Jumat berkumandang, kami pun menuju masjid yang ada di area Pantai Ngandong untuk melaksanakan Sholat. Selesai sholat kami lenjut menikmati keindahan sekitar Pantai Ngandong dan Sundak yang secara geografis bersebelahan posisinya. Di Pantai Ngandong dan Pantai Sundak kita akan terbiasa dengan pemandangan para pencari momen untuk berfoto ria.



Puas menikmati Pantai dan Puncak, Kami melanjutkan perjalanan menuju candi. Kali ini candi yang dituju adalah Candi Ijo. Setelah melakukan perjalanan sekitar 1 jam, kami mulai memasuki jalan yang menanjak menuju Candi Ijo. Candi yang terletak di Dukuh Groyokan, Desa Sambirejo ini merupakan Candi bercorak Hindu.Candi ini disebut Candi Ijo karena berada di Gumuk/Bukit Ijo (awalnya kukira karena banyak lumut berwarna hijau hehe).
Setelah membayar tiket masuk sebesar Rp 5000,- per orang, kami mulai mendaki kompleks candi menuju candi utama. Ternyata suasanya cukup ramai. Di depan Candi Utama terdapat 3 candi perwara yang menghadap ke Candi Utama.



Di dalam ruang Candi Utama terdapat lingga dan yoni yang disangga oleh figur ular sendok. Makhluk yang berasal dari mitos Hindu ini melambangkan penyangga bumi. Penyatuan lingga dan yoni melambangkan kesatuan antara Syiwa dan Parwati Shaktinya.

Sekian dulu warta kami selama dua hari, Kamis-Jumat, 28-29 Desember 2017. Tunggu liputan berikutnya ha. Wes yah...cintai sejarahmu agar cinta negerimu. 

Senin, 01 Januari 2018

Candi Plaosan: Arsitektur Bergaya Hindu Budha






Masih eksplore candi-candi. Kali ini Candi Plaosan di Dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan menjadi tujuannya. Candi ini terletak sekitar satu kilometer arah timur laut dari Candi Prambanan. Cukup berbekal Rp 2.000,- kita dapat memarkir kendaraan di sekitar area candi. Saat memasuki pintu masuk area candi kita diharuskan membayar tiket masuk sebesar Rp 2.000,- per orang. Biaya yang cukup murah bukan?
Menyambut di dekat penjual tiket masuk, kita akan bertemu dengan sebuah bongkahan batu yang cukup besar dengan tanda tangan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di era Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro. Di samping bongkahan batu bertanda tangan dari Wardiman terdapat pula sebuah prasasti tanda tangan dari Jero Wacik sebagai Menteri Kebudayaan dan Pariwisata bertahun 2010.


Selanjutnya kita akan melihat bangunan candi utama dan beberapa bangunan di area candi yang telah runtuh. Bangunan candi yang mengalami keruntuhan cukup banyak. hanya ada beberapa bangunan candi dan stupa yang masih utuh sebagai perlambang bentuk dari bangunan-bangunan yang sudah runtuh. Berbeda dengan di komplek Keraton Ratu Boko yang terdapat papan keterangan kesejarahan bangunan, di Candi plaosan kita seolah diajak untuk berpikir, merenung, serta menduga-duga apa fungsi bangunan yang ada dan yang telah runtuh itu. 


Candi Plaosan Lor memiliki dua bangunan utama. Candi Induk Utara bereliefkan gambaran tokoh-tokoh wanita. Sedangkan Candi Induk Selatan bereliefkan gambaran tokoh laki-laki.Kedua candi induk ini dikelilingi 116 stupa serta 50 buah candi perwara, juga parit buatan. Pada masing-masing candi induk terdapat 6 patung/arca Dhyani Boddhisatwa. Walaupun Candi Plaosan merupakan candi Budha, namun gaya arsitekturnya merupakan perpaduan antara agama Hindu dan Budha.

Sayangnya beberapa arca yang ada dalam Candi Induk kondisinya sudah tidak utuh lagi. kebanyakan hilang di bagian kepala ataupun tangan. Bila saja ada keterangan mengenai sejarah "terpenggalnya" kepala arca-arca itu tentu akan lebih menarik untuk pengunjung agar memahami sejarah yang ada.



 Di setiap Candi Induk ada tiga ruangan yang di masing-masing ruang terdapat dua arca dengan beberapa relief di samping kiri dan kanannya. relief itu berbeda-beda pada setiap ruangan.Ada relief seorang laki-laki dan perempuan yang sedang melaksanakan ritual perkawinan. Ada pula relief berupa seseorang (entah laki-laki atau perempuan) yang berdiri dengan dikelilingi relief-relief kecil. Sekali lagi dikarenakan tidak adanya keterangan dalam relief dan patung-patung itu akhirnya pengunjung (seperti saya) hanya bisa menduga-duga saja hehe. 



Setelah puas berputar mengitari Candi Plaosan Lor, kami pun mengakhiri ekplorasi Candi Plaosan Lor. Selanjutnya kami menujuCandi Plaosan Kidul. Di area Candi Plaosan Kidul memang tidak ditemukan semacam Candi Induk yang terdapat di Candi Plaosan Lor. Hanya ada beberapa bangunan seperti tempat bersemadi (lagi-lagi hanya menduga-duga hehe). Sebagian bangunan pun sudah banyak yang runtuh. Namun sebagaimana sebuah sejarah, meskipun sudah usang dan tinggal puing-puing, ia akan selalu menampakkan kesejatiannya. Kesejatian sebuah bangsa yang pernah jaya dan beradab. Kini....???





Minggu, 17 Desember 2017

Keraton Ratu Boko: Kebanggaan yang Terlupakan?

Minggu, panas matahari lumayan terik kala aku bersama istriku menyusuri jalan Jogja-Solo. Jam menunjukkan pukul 10.00 WIB. Awalnya pintu masuk menuju Keraton Ratu Boko seolah tak meyakinkan. Namun rasa penasaran membuat kami tetap memarkir kuda besi di area parkir yang ditunggui oleh seorang petugas berbaju sorjan lurik berblangkon. Setelah membayar parkir dan tiket masuk seharga Rp 40.000,00 per orang, kami melanjutkan menaiki tangga menuju pintu masuk keraton.
Jumlah tangga cukup membuat kami sedikit "ngos-ngosan" hehe. Kami memang sengaja memarkir kuda besi di bawah agar bisa menikmati setiap jengkal pesona area keraton. Sampai di atas kami disambut rindangnya sebuah pohon yang di sekitarnya diberi tempat duduk untuk sekadar melepas lelah. Pukul 10.45 WIB, kami memutuskan untuk memasuki pintu menuju Keraton Ratu Boko berbekal karcis yang sudah kami peroleh. Menuju keraton di sisi kanan jalan kami sempatkan untuk mengambil gambar--berfoto dulu--hehe. Deretan tempat duduk tertata cukup rapi di sisi kanan jalan menuju keraton. Sedangkan sisi kiri kita dapat melihat daratan, Gunung Merapi dan Kota Jogja maupun Klaten. 


Saatnya melanjutkan perjalanan menuju keraton. Beberapa saat kemudian sampailah kami di pelataran jalan keraton. Beberapa gazebo kami temukan di sisi kanan jalan dan di taman kompleks keraton. Saat memasuki pelataran jalan yang telah dekat dengan keraton ada sebuah papan kecil berwarna putih dengan tulisan hitam yang berbunyi "Dilarang menginjak batu  lama". Cukup arif , sebab batu-batu itu adalah sebuah prasasti, peninggalan dari bukti sejarah yang cukup berharga. 

Setelah menapaki pelataran jalan, kami disambut oleh dua gerbang yang cukup kokoh menantang arus zaman. Gapura Keraton Ratu Boko terdiri dari dua buah bangunan berbentuk paduraksa dengan puncak bangunan berbentuk ratna sebagai pintu masuk utama.



 Setelah memasuki kedua gerbang keraton kami melanjutkan perjalanan menuju candi pembakaran dan sumur suci. Bangunan yang terbuat dari batu andesit dengan panjang bangunan 22,60 m; lebar 22,33 m; dan tinggi 3, 82 m ini dahulunya digunakan untuk upacara tawur agung , sehari sebelum Hari Raya Nyepi. Di tengah bangunan ini terdapat sebuah sumur berukuran 2,30 m x 1,80 m dengan kedalaman 5 m dari permukaan tanah.




 Setelah puas menikmati Candi Pembakaran dan Sumur Suci, perjalanan kami lanjutkan menuju Paseban. Paseban, konon dahulu digunakan untuk ruang tunggu tamu yang akan menemui raja. Paseban terdiri dari 2 batur: Paseban Timur dengan panjang 24,6 m; lebar 13,3 m; dan tinggi 1,16 m, sedangkan Paseban Barat dengan panjang 24, 42 m; lebar 13,34 m; dan tinggi 0,83 m. Kondisinya memang sedikit tak beraturan. Bebatuannya tampak sudah tak lengkap.

Dari Paseban perjalanan kami lanjutkan menuju Gua. Gua di Keraton Boko terdiri dari 2 buah: Gua Lanang (laki-laki) ditandai dengan simbol lingga di pintu gua dan Gua Wadon (perempuan) ditandai dengan simbol yoni. Gua Lanang berada di atas dan di depannya terdapat seperti sumur yang sepertinya cukup dalam. sedangkan Gua Wadon berada sedikit turun dengan di pelataran batu yang cukup luas di sampingnya.




Puas menikmati aroma gua, kami melanjutkan langkah menuju Kolam. Di kompleks Keraton Boko, Kolam terdiri dari 2 bagian: KolamUtara dan Kolam Selatan. Kolam Utara terdiri dari 7 buah kolam(5 buah kolah berukuran besar dan dalam, 2 buah kolam kecil dan dangkal) berbentuk persegi panjang. Sedangkan Kolam Selatan terdiri dari 28 buah kolam (14 kolam berbentuk bundar, besar; 13 buah berukuran kecil berbentuk bundar; dan 1 buah berukuran kecil berbentuk segi empat). Kedua kolam dipisahkan oleh tembok yang ditengahnya terdapat gapura kecil. Kondisi beberapa kolam memang sudah tidak berbentuk seperti dalam keterangan di papan keterangan. Memang masih terlihat jelas kolam-kolamnya--terutama yang besar--. Saat kami melihat lebih dekat air yang terdapat dalam kolam pun sudah terlihat keruh dengan ikan-ikan gembira berenang di dalamnya.





Sedikit menurun dari area kolam kita akan menemukan kompleks Keputren. Keputren terdiri dari 2 buah batur yang terbuat dari batuan andesit. BaturS elatan mempunyai panjang 21,43 m; lebar 22,70 m; dan tinggi 1,75 m, sedangkan Batur Utara mempunyai panjang 16,40 m; lebar 14,90 m; dan tinggi 1,62 m. Melihat namanya sebagai kompleks keputren, kemungkinan bangunan ini dulu digunakan untuk tinggal para putri raja --cuma prediksi hehe--. Pemandangan yang sedikit mengganggu di area Keputren adalah adanya genangan air yang cukup luas. Entah itu ada sejak dahulu sebagai bagian dari Keputren ataukah ada setelah penemuan situs (tidak ada keterangan).



Setelah asyik berpanas-panasan di area keputren kami melanjutkan perjalanan kembali menapak naik menuju Pendopo. Pendopo ini dikelilingi pagar dari batu andesit sedangkan tubuhnya terbuat dari batu putih. Di dalam Pendopo terdapat 2 buah batur: Batur Utara yang mempunyai ukuran panjang 20,57 m; lebar 20,49m, dan tinggi 1,43 m. Sedangkan Batur Selatan berukuran panjang 20,50 m; lebar 7,04 m; dan tinggi 1,51 m. Kedua batur dihubungkan oleh selasar yang terbuat dari batu andesit. 

Inilah akhir perjalanan kami di kompleks Keraton Ratu Boko yang konon ada sangkut pautnya dengan Ratu Balqis dalam khasanah kenabian. Menikmati sejarah laksana kita sedang merenung dan "metani" kedirian. Kita seolah dibawa untuk lebih menghargai bangsa besar ini. Bahwa bangsa ini mempunyai sejarah yang cukup tua dan panjang. Tentu saja setelah menemukan kesejatian bangsa diharapkan kita akan lebih mampu mencintai bangsa yang dulu punya sebutan Nusantara ini.

Mari kita mengingat bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tak lupa akan sejarahnya. Bangsa yang masyarakatnya tidak seperti "kacang lupa kulitnya". Bangsa yang orang-orang hidup di dalamnya selalu mencintai keberagaman sebagai sebuah anugerah. Bukan bangsa yang hanya mementingkan ego pribadi dan golongan. Bangsa yang saudara saklawase! Oya, jangan suka jahil mencorat-coret situs sejarah ya. Jaga kelestarian budaya dan sejarah bangsa. Salam budaya!